Kewajiban Asasi Manusia

Kewajiban Asasi Manusia. Hakekatnya dalam kehidupan manusia ada dua dimensi kehidupan yaitu dimensi individu dan dimensi sosial. Pada tataran individu, seseorang akan membangun pada dirinya praktek dan pengembangan nilai yang akan mengarahkan berbagai tindakan dirinya dalm upaya mencapai rasa puas diri. Kewajiban Asasi Manusia.

Walaupun demikian rasa puas diri yang hendak dicapai dapat dibagi dalam dua gradasi yaitu gradasi pertama adalah adanya kebutuhan dan keinginan yang bersifat individu. Pada gradasi kedua yang bersifat lebih tinggi adalah kesadaran sosial juga mempunyai jenis kebutuhan sosial dan keinginan sosial. Pada tataran individu, cara mencapainya tentu tidak diperkenankan bila kehendak tersebut bila akan dieksekusi  sudah jelas akan merugikan orang lain, demikian pula pada level kehidupan sosial.

Pada tataran praktek, seseorang yang mempunyai self awareness yang akan dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Peran agama yang merupakan rujukan nilai yang akan membentuk dan memancarkan perilakunya disamping akar budayanya, bila diaktualisasikan akan memancarkan pola praktek kewajiban manusia. Dalam konteks atau semangat ini, maka semua agama telah jelas mengajarkan nilai-nilai toleransi dan pembentuk motivasi perilaku luhur, baik untuk tujuan ke-akheratan maupun untuk tujuan ke-duniawi-an. Demikian pula dalam konstruksi hubungan dan perilaku sosial, misalnya, agama Islam telah memberikan rujukan nilai seperti mekanisme musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, kemudian tolong-menolong dalam hal kebaikan, tanpa melihat perbedaan agama, suku, status sosial dll. Nilai-nilai seperti ini yang perlu dilakukan re-aktualisasinya dalam konstruksi hubungan sosial dalam wadah Indonesia ini sehingga menumbuhkan proses-proses sinergitas-positif. Bila keadaan ini yang terjadi maka proses pensejahteraan bangsa tentu akan lebih terpacu atau lebih akseleratif. Karenanya dimensi hubungan horizontal dalam nilai-nilai agama ini yang perlu mendapat prioritas dalam aktualisasi diri, baik sejak pemahamannya maupun dalam aspek praktikalitasnya. Maka karakter yang membentuk perilaku ini sesungguhnya merupakan kewajiban asasi manusia (KAM) sebagai makhluk ibadah.

Maka dalam sebuah komunitas yang bernama bangsa yang dibangun atas kesamaan nilai-nilai budaya, maka dalam wadah kebangsaan perlu dibangun sebuah konstruksi teologi yang mampu keluar dari kesempitan (aliran) agama dan mampu mendorong umat menyapa baik komunitas internalnya maupun yang di luarnya. Ada dua hal yang potensial yang dapat dicapai dalam pengembangan teologi kebangsaan. Pertama, sikap bahwa manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri, maka dalam kesadaran ini “semangat memberi” (giver) merupakan  sikap  terbaik  sebagai pengganti dari sikap selalu menuntut hak, tanpa diimbangi dengan pengertian adanya kewajiban (taker). Kedua, dalam beragama dan soal-soal keagamaan, yang mendorong manusia sebagi makhluk ibadah untuk selalu berbuat baik  dapat dikembangkan menjadi perilaku yang baku dan menjadi sikap yang tidak ter-buru-buru atau mudah menggunakan alasan agama untuk menghakimi orang lain.

Untuk itu, bila dengan berbagai kejadian yang ada didunia ini dapat dianggap sebagai sedang terjadinya krisis nilai, yang merupakan akar dari berbagai krisis yang ada, maka bila digunakan teori seven habit-nya Covey, maka pada tataran : Kemauan – Mengutamakan yang Utama (First Thing First- Yang penting dan mendesak) dengan penjelasan sebgai berikut :

Kemampuan manusia berupa kemauan apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup teratur – mengutamakan yang utama, dan penuh displin dalam membuat tata letak antara prioritas utama, kepentingan, dan urgensitas. Keteraturan dan displin tidak dapat diraih tanpa kemauan keras untuk merebut tanggung jawab. Orang yang tahu tata letak akan membuat kebiasaan hidup efektif.

Pada level aktualisasi yang  rendah, kemampuan ini akan menghasilkan kebiasaan hidup berupa mentalitas jalan-pintas, atau the simple answer, menolak tanggung jawab hidup sehingga tidak terjadi keteraturan. Membesar-besarkan hal yang kecil dan mengabaikan hal yang menjadi benih-benih   peristiwa besar  (kebocoran atau kemampetan talang).  Orang yang malas tidak berarti hidupnya efektif meskipun ia menolak bertanggung jawab karena pada dasarnya hidup ini tidak memberi pilihan antara  bertanggung jawab atau tidak, melainkan harus bertanggung jawab. Maka dalam hal ini dalam asumsi sedang terjad globalisasi krisis nilai, maka nilai utama atau First Thing First yang harus ditegakkan saat ini adalah mulai dengan menegakkan dan mempraktekkan “kewajiban asasi manusia” atau (KAM). Marilah bangsa indonesia membangun identitas karakternya dengan semaraknya praktek moralitas giver, sebagai manifestasi ari kesadaran nilai KAM. (nuansa.net)

Artikel Kami Lainnya:

5 Responses to “Kewajiban Asasi Manusia”

  1. wahyu says:

    makasih gan info nya..
    moga bermanfaat untuk sesama

  2. aryo says:

    tetapi dalam prakteknya kita sangat sulit untuk mengutamakan yang utama,mungkin kadang kita di batasi adanya kebutuhan ekonomi yang terhimpit.ok sebuah paparan yang menarik barangkali agan bisa memberikan post yang berkaitan dengan cara bagaimana seseorang dapat konsisten pada sesuat yang haus di utamakan.maksih nice post n blogwalking

  3. aryo says:

    sangat bvagus sekali,dengan tulisan yang terurai di atas bisa kita jdaikan pedoman bagaimana dan apa yang perlu kta dahulukan sebagai bagian dari sebuah bangsa

  4. asal usul says:

    mantep gan infonya…

  5. nonenine says:

    artikel yang bagus gan

Leave a Reply